Jumlah Anak Indonesia dengan Gangguan Jiwa Lebih Banyak dari Orang Dewasa
JAKARTA, SINJAI UPDATE Data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: prevalensi gangguan kejiwaan pada populasi anak dan remaja usia 10 hingga 17 tahun di Tanah Air kini melampaui angka yang tercatat pada kelompok usia dewasa.
Fenomena ini bukan sekadar peningkatan kasus biasa, melainkan sebuah krisis kesehatan mental yang masif dan membutuhkan intervensi segera.
Tercatat, sekitar 3,7 juta anak dalam rentang usia tersebut menghadapi masalah mental, menempatkan beban kesehatan mental terbesar pada pundak generasi muda, yang ironisnya sering kali dianggap sebagai kelompok yang paling riang tanpa beban.
Kajian mendalam Kemenkes memperkuat temuan ini, menunjukkan bahwa satu dari setiap 20 remaja di Indonesia, atau sekitar 5% dari total populasi remaja, mengalami gangguan jiwa signifikan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
Angka ini secara substansial lebih tinggi dibandingkan data yang terekam pada Riskesdas 2018, yang mencatat 6,1% penduduk berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan emosional dan mental. Pergeseran demografi kasus ini menandakan bahwa tekanan hidup modern, tuntutan akademik yang tinggi, serta perubahan dinamika sosial global semakin membebani mental anak-anak, membuat mereka jauh lebih rentan ketimbang kelompok usia yang lebih matang.
Kerentanan ini terkonfirmasi melalui penelitian yang dilakukan oleh Center for Child and Adolescent Mental Health (CKG). Berdasarkan survei CKG, ditemukan bahwa 58% responden muda usia 10-17 tahun melaporkan mengalami gejala depresi dan kecemasan.
Dr. Kristiana Siste, SpKJ, Ketua CKG dan seorang Psikiater Anak dan Remaja terkemuka, menjelaskan bahwa anak dan remaja berada dalam fase perkembangan yang unik, di mana mereka sedang membentuk identitas diri dan kemampuan koping.
"Kecemasan dan depresi adalah manifestasi paling umum. Ketika mereka menghadapi stresor yang berlebihan, apalagi tanpa literasi dan dukungan emosional yang memadai, otak mereka belum memiliki alat pertahanan yang kokoh layaknya orang dewasa," tegas Dr. Kristiana Siste.
Tekanan yang dihadapi oleh anak-anak dan remaja saat ini bersifat multifaktorial. Psikiater RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, mengidentifikasi tiga pemicu utama yang mendorong krisis ini, yaitu tekanan akademik yang brutal, lingkungan sosial yang toksik, serta perundungan (bullying) yang kini semakin merajalela, baik secara fisik maupun daring.
"Sistem pendidikan yang terlalu fokus pada capaian nilai tanpa memperhatikan kesejahteraan emosional menjadi salah satu biang keladi utama. Ditambah lagi, perundungan di sekolah atau bahkan di dunia maya seringkali tidak terdeteksi oleh orang tua dan guru, memicu luka psikologis yang mendalam dan berkepanjangan," ujar dr. Lahargo Kembaren.
Apabila gangguan mental yang terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja tidak ditangani secara serius dan tuntas, dampaknya akan menjalar hingga mereka mencapai usia dewasa. Kondisi ini berpotensi menyebabkan gangguan jiwa kronis, penurunan produktivitas, hingga peningkatan risiko bunuh diri.
Ketiadaan deteksi dini dan intervensi yang cepat mengakibatkan masalah mental ini terinternalisasi, menciptakan siklus kesulitan yang membebani individu, keluarga, dan sistem layanan kesehatan nasional secara keseluruhan di masa mendatang.
Oleh karena itu, urgensi untuk meningkatkan literasi kesehatan mental di Indonesia sudah berada di titik kritis. Edukasi mengenai pentingnya kesehatan jiwa tidak boleh lagi terbatas hanya pada kampanye sesaat, melainkan harus diintegrasikan dalam kurikulum sekolah dan diperkenalkan sejak dini di lingkungan keluarga.
Para pendidik dan orang tua perlu dibekali pengetahuan yang cukup untuk mengenali tanda-tanda awal depresi atau kecemasan pada anak-anak, jauh sebelum gejala tersebut berkembang menjadi diagnosis klinis yang lebih parah.